Kasih Uang Ke Petugas Pajak?

Ada kepercayaan para pengusaha yang perlu dipertanyakan keabsahannya : ‘Kalo ngurus ijin ke petugas harus kasih amplop supaya lancar dan tidak dipersulit.’

Nah, saya tipikal yang kurang suka dan kurang percaya dengan slogan itu. Pernah saya tanyakan langsung kepada seorang pengusaha yang sedang menunggu kedatangan survey petugas pajak dalam rangka pengajuan PKP perusahaannya. Kebetulan saya melihatnya memasukkan amplop putih tebal ke saku kemejanya. Iseng saya bertanya, “Pak, mau kasih buat petugas ya?” Jawabnya, “Iya pak, supaya lancar dan gak lama prosesnya.”

Mendapati jawabannya, saya langsung protes, “Wah, ini yang bikin lingkaran setan, kasihan khan pengusaha kecil yang modal seadanya harus siapkan dana untuk sesuatu yang seharusnya gratis karena sudah tugasnya. Atau di sisi petugas yang terbiasa menerima amplop, apakah suatu saat bila tidak diberi amplop dia akan tetap profesional?”
Jawabnya lagi sambil terkekeh, “Yah pak sudah umum kayak gini, yang penting ikhlas kita biar usaha cepat jalan.”

Ketika tiba giliran saya mengajukan PKP, saya iseng bertanya ke petugas pajak yang duduk di counter KPP pratama. “Pak, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk pengurusan PKP?”
Petugas itu menjawab,”Tidak ada pak, kenapa ya?”
“Saya beberapa kali mendengar dan pernah mendapati pengusaha yang menyiapkan amlop untuk petugas survey.”
Mendengar pernyataan saya, petugas tersebut langsung mengeluarkan pena dan bertanya “Nama perusahaan pengusaha tersebut dan nama petugasnya siapa pak? Kalau memang petugas kita ada yang meminta imbalan tolong laporkan, tetapi kalau dari pengusahanya yang memberi ya itu kebijakan petugas saja.”
Wah, ternyata serius juga masalah pemberian ini, pikir saya dalam hati.

Betul juga, ketika hari H dilakukan survey, sengaja saya siapkan amplop untuk petugas (masih muda) yang datang. Selesai wawancara dan melihat kelengkapan berkas, saya sempatkan untuk menyerahkan amplop tersebut yang ditolak halus olehnya. “Maaf pak, kita tidak bisa menerima seperti itu.”

“Wow, keren juga nih, apa karena masih muda dan idealis?” pikir saya dalam hati sambil mengingat beberapa hari sebelumnya terpaksa merogoh kocek untuk pungutan liar ketika mengurus surat keterangan domisili ke petugas paruh baya di kelurahan. Semoga ke depan para penerus pelayan masyarakat bisa terus profesional dan konsisten merevolusi mentalnya demi kemajuan Indonesia.

Aminn..

To Forgive

To forgive is to set a prisoner free and to discover that the prisoner is you..
Letting go what’s in the past, letting in new blessings ahead.

 

6 Tahun Berantem dengan Jupe, Dewi Persik Menyesal Sudah Emosi

Jakarta – Tahun 2010 Julia Perez dan Dewi Persik bertengkar dan saling cakar saat produksi sebuah film. Kini, keduanya sudah berdamai dan Depe menceritakan penyesalannya.

Bila dihitung mundur, sekitar enam tahun dua pedangdut ini terkurung dalam masalah cakar-cakaran. Tidak ada tegur sapa atau komunikasi selama itu.

“Iya sempat (malas bertemu) kan namanya manusia. Dalam arti malas tuh gini ngambek, kesal. Lama kan tuh berapa tahun ya waktu itu,” kenang Depe saat ngobrol dengan detikHOT.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah pesta khitanan putra Eko ‘Patrio’ tidak disengaja, keduanya dipertemukan dalam satu panggung. Berawal dari situ, Jupe dan Depe sama-sama membuka hati untuk kembali merajut komunikasi dan berdamai.

Hampir enam tahun dibayang-bayangi konflik yang memberikan dirinya pelajaran mental di ‘Hotel Prodeo’, membuat Depe sadar bila permusuhannya dengan Jupe tidak membawa keuntungan.

“Iya kan penyesalan itu datangnya di akhir. Merasa menyesal dalam artian gini, kalau saya tidak mengikuti emosi pasti tidak akan terjadi,” ungkapnya.

“Menyesal itu pasti, dan saat ini aku menyesal,” sambung Depe.

Setelah kembali berdamai, Depe kini merasa lega. Mantan istri Saipul Jamil itu mengatakan tidak ada lagi yang mengganjal.

“Bukan hanya lega aja. Malah ada rasa kasih sayang gitu, kayak kashian yah. Ada prasaan aku tuh nggak mau di bilang sahabat, malah kepingin dibilang kayak adik. Malah mungkin kalau ada proyek lagu atau apapun itu aku pingin bantu,” ucap Depe.

sumber

 

Hmm.. 6 tahun berantem dan gak ada komunikasi?
Seperti memegang segelas air dengan tangan lurus ke depan selama beberapa jam.. hehe hiperbola ya?
Tapi beban perasaan yang menghimpit memang berat rasanya, dan detik ketika kita meminta maaf / memaafkan serta menjalin silaturahmi, beban tersebut langsung terangkat plong..

Hidup terlalu singkat untuk memendam dendam amarah, jadi beresin yuk baik terhadap keluarga yang pernah menyakiti kita maupun orang di jalan yang tidak kita kenal menyerempet kendaraan kita..

Buy Experience, Don’t Buy Stuff

Hey young fellas..

Baru baca artikel ini.. https://brightside.me/inspiration-psychology/why-young-people-dont-buy-cars-and-apartments-anymore-238710/

Menarik, pemikiran anak muda sekarang dengan mobilitas tinggi dan ingin mencicipi berbagai rasa petualangan. Anti kemapanan kali ya istilahnya.. cmiiw

Begitupun dalam berkarir maupun membuka usaha. Yep mumpung masih muda, pelajari segala hal dan praktikkan. Because you live only once, mate!

Kembali Diselamatkan Web Check In

Pagi ini tanggal 7 September 2016, saya ada jadwal keberangkatan menuju Belitung pukul 05.55. Berangkat menggunakan mobil pribadi dari Cilegon pukul 03.30 dengan perkiraan sampai di bandara sekira pukul 05.00. Seperti biasa, beberapa jam sebelum keberangkatan saya melakukan check in ke website maskapai bersangkutan.

Ketika sampai di tol bandara, waktu sudah menunjukkan pukul 04.45, saya bergegas menuju tempat parkir rawat inap yang biasa saya tuju, yaitu melewati terminal 1 & 2 menuju ke area pergudangan. Karena sudah lama tidak menitipkan mobil (karena alasan ekonomis dan kepraktisan, akhir-akhir ini lebih suka naik bus Damri trayek Cilegon – bandara Soetta), saya tergoda memilih persimpangan baru yang menunjukkan arah terminal 3, dan mulai panik ketika tidak familier dengan jalan yang dilalui, haha.. (waktu sudah menunjukkan pukul 05.15 rekan-rekan..)

Penyelamatan Pertama (Thanks pak Security)

Bergegas saya berhenti di dekat loket parkir terminal 3 dan meminta petunjuk arah ke petugas. Satu petugas meminta saya masuk dulu ke parkir kemudian keluar dan memutar ke arah terminal 1. “Ah..  tidak efisien waktu” pikir saya, akhirnya saya meminta ijin ke petugas security untuk berputar arah melawan arus langsung keluar menuju bandara thanks pak.. hehe.. (mungkin bapaknya kasihan melihat wajah pucat saya dan kebetulan memang pagi buta jalanan masih lengang).

Sepanjang jalan saya berdoa dan berusaha tentunya (berusaha injak gas sambil tetap hati2) hehe.., akhirnya nampaklah plang bertuliskan parkir inap terminal 1. Sesampai di pintu gerbang masuk, saya masih harus antri satu mobil yang sepertinya agak lama karena dia masih bercakap-cakap meminta info kepada petugas, duh.. keringat dingin mulai menetes karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.25 saudara-saudara! Saya meminta petugas untuk membantu saya yang sudah telat dan terburu-buru parkir mobil lalu berlari menuju mobil shuttle antar jemput ke terminal tujuan.

Penyelamatan Kedua (Thanks pak Driver dan bapak penumpang)

Di dalam mobil ketegangan masih muncul karena ada satu penumpang yang boarding pukul 06 lewat melalui terminal 3 sehingga driver bingung mau mengantar saya ke terminal 1 atau ke terminal 3 dulu. Ditambah bapak tersebut bilang maskapai yang saya tumpangi selalu lebih dahulu waktu boardingnya. Wah… Karena permohonan dan doa saya, akhirnya bapak penumpang tersebut mengikhlaskan untuk mengantar saya terlebih dahulu, bahkan sempat mengucapkan hati-hati ketika saya turun.. Wah banyak orang baik ya di dunia ini.. *prayforgoodkarma

Penyelamatan Ketiga (Thanks mas dan mbak petugas)

Setelah berlari-lari masuk ke dalam area check in counter, saya yang terbiasa tidak mencetak boarding pass dari web check-in, kebingungan ketika melihat antrian mengular di counter maskapai berwarna hijau tersebut, saya main colek petugas yang berdiri di dekat self check in (kebetulan petugasnya wanita, cantik pula hehe..). Setengah berteriak saya memohon bantuannya karena waktu sekarang sudah di pukul 05.35 sedangkan tertera di layar monitor boarding rute saya pukul 05.25! OMG! Beruntung mbak petugasnya sigap dan langsung membawa kode booking saya ke counter terdekat untuk dicetak boarding passnya. Karena saya sudah web check in, saya langsung dilayani dan dibantu oleh mas-mas yang ada di belakang meja counter (thanks mas)

Secepat kilat saya berlari mengejar pesawat (emang bisa? hehe..) dan syukurlah sampai di bus shuttle sebelum ibu-ibu yang menggunakan kursi roda.

Wah perjalanan yang menegangkan, hehe..

Tips dari saya :

  1. Usahakan cari maskapai yang mempunyai fitur web-check in dan kemudian print dulu. Jangan remehkan pentingnya web check-in!
    Sudah kali kedua ini saya terselamatkan oleh web check-in. Kali pertama saya bersebelahan dengan seorang bapak yang datang berbarengan ke counter dengan rute yang sama, 30 menit sebelum jam boarding, saya dilayani dan beliau ditolak.. Fiuh..
  2. Berangkat minimal 4 jam sebelum jam boarding (dengan asumsi waktu tempuh normal sekitar 2 jam).

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di perjalanan, lebih baik menunggu daripada terlambat, betul betul betul?

  1. Ketika telat, jangan panik, terus berusaha dan terus berdoa

Panik malah akan membuat Anda melakukan pilihan yang kurang tepat, jadi pasrahkan saja pada yang kuasa dan terus berdoa. Yup manjur bro sis!

Oh ya, yang belum membaca buku saya “Yakin Cuma Mau Jadi Karyawan Seumur Hidup?”, bisa membeli di toko buku Gramedia ya.. Atau pesan di home www.perjalanansukses.com

Dan bila Anda mau memesan batu split untuk proyek konstruksi jalan, bisa berkunjung ke www.jualbatusplit.com

See you again guys

71 Tahun Merdeka

Selamat pagi rekan2..
Merdeka!
Kita sudah 71 tahun lho bebas dari belenggu penjajahan.
Apa sih penjajahan itu?
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), penjajahan dari kata dasar Jajah adalah menguasai dan memerintah suatu negeri (daerah dan sebagainya)
 
Nah, dengan kebebasan kita untuk berbuat sebaik2nya dan sebanyak2nya untuk diri sendiri, lingkungan, maupun negara, masihkah Anda menunda untuk menjadi maju?
Banyak cara untuk menjadi maju, salah satunya adalah menjadi pengusaha, kenapa? Dengan menjadi pengusaha artinya Anda bisa mengolah hasil alam menjadi lebih bernilai dan berdaya guna, Anda bisa membuka lapangan pekerjaan baru dan ujungnya akan memutar roda perekonomian negara.
Mungkin Anda lihat masih banyak pengemis yang berkeliaran di jalanan, masih banyak penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan banyak kekurangan lain di negara subur Indonesia ini. Ya betul!
“Dont tell me Indonesia is a poor country. Its not.Indonesia is a rich country, but poorly managed” -Miguel, org via twitter Pandji Pragiwaksono.
So di tangan kita lah (penduduk Indonesia) kemajuan suatu negara layak diperjuangkan..
 
Salam YCM