Kesuksesan Bukanlah Milik Si Penakut

Ketahuilah, bahwa setiap orang memiliki rasa takut, baik dia orang biasa, orang sukses, orang besar, prajurit maupun jenderal, rakyat maupun pejabat pemerintah.

Ketahuilah, bahwa setiap orang memiliki rasa takut, baik dia orang biasa, orang sukses, orang besar, prajurit maupun jenderal, rakyat maupun pejabat pemerintah. Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka bereaksi saat rasa takut itu muncul. Seorang pemberani membiasakan dirinya melawan rasa takut dan tidak membiarkan rasa takut mengalahkan dirinya, sehingga muncul sifat keberanian sebagai pengganti rasa takut.

Sedangkan kegagalan merupakan langkah-langkah yang mendekatkan kita pada kesuksesan/ keberhasilan. Dari kegagalanlah kita tahu bahwa metode yang kita pakai salah, atau alat yang kita pakai kurang tepat, atau bahkan kemampuan kita yang masih kurang. Kesuksesan semakin dekat karena kita akan menggunakan metode lain, atau mengganti dengan alat yang lebih tepat atau membuat perencanaan yang lebih matang, atau kita perlu menambah kemampuan / skill kita atau langkah-langkah lain yang tentu berpeluang lebih besar untuk berhasil.

Yang membebani langkah awal menuju kesuksesan adalah rasa takut gagal. Semua orang merasakan ketakutan pada kegagalan. Hanya saja bagi seorang cerdas dan bercita-cita kuat, rasa takut gagal itu ia gunakan untuk berhati-hati dan mempersiapkan diri sebelum berusaha sekuat tenanga. Ia tahu perasaan takut gagal harus dikalahkan, karena orang tidak bisa sukses atau berhasil jika tidak bisa mengalahkan ketakutannya pada kegagalan.

Maka jika seseorang merasa takut gagal dan takluk oleh perasaan itu, jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang sukses, jangan bermimpi untuk menjadi orang besar, dan janganlah bermimpi tentang hal-hal luar biasa yang bisa ia dapatkan dalam kehidupannya.

Hidup tidak selalu harus naik, adakalanya kita perlu turun. Seperti seorang pendaki gunung yang harus turun gunung dulu sebelum mendaki gunung yang lain.

Motivasi dari Orang Sukses

Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak,
Dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi.
(Jawaharlal Nehru)

Setengah Isi atau Setengah Kosong?

Pilih yang mana?

Bagaimana Anda melihat gambar ini ?

Anda mungkin sebagian akan menjawab gelas ini kosong separuh, dan sebagian dari Anda mungkin akan menjawab gelas ini terisi sebagian. (asal jangan tidak menjawab, hehe..). Apabila kita berpikir positif, kita pasti akan memilih b, dan apabila kita berpikir negatif, kita akan memilih a (karena selalu merasa kurang).

Cara pandang yang positif akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja, bahkan seluruh gerak hidup kita. Melalui cara pandang demikian, secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimiliki. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang yang positif akan memiliki willingness to do more (keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta) dan memiliki watak pekerja cerdas (smart worker). Mereka akan terus bersyukur, alih-alih menginginkan yang tidak mereka miliki, mereka akan lebih lagi menginginkan hal-hal yang telah mereka miliki. Nah lho..

Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya. Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat diatasi. Melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif. menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik. Mempunyai alasan untuk menggerutu, tetapi memilih untuk tersenyum.


Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi, tidak ada langkah yang terlalu panjang untuk dijalani, dan tidak ada orang yang terlalu sulit untuk dihadapi ketika KITA MAMPU Menyikapi Peristiwa yang terjadi dengan Hati yang Jernih dan Kepala dingin (asal jangan disiram pakai air di gelas yang setengah kosong, eh setengah penuh tadi..)

Winners vs Losers

One day a student asked to his teacher
“Teacher, what should I do so I can become a winner
in this life not a loser?”
And the teacher said,
“You have to learn the distinguish between them.”

If the loser is always a part of the problem
then the winner is always a part of the answer
If the loser always has an excuse
then the winner always has a program
If the loser says: “That’s not my job!”
then the winner says: “Let me do it for you!”
If the loser sees a problem in every answer
then the winner sees an answer for every problem
If the loser sees two or three sand traps near every green
then the winner sees a green near every sand trap
If the loser says: “It may be possible, but it’s too difficult!”
then the winner says: “It may be difficult, but it’s possible!”

If you are willing to do all the winner list,
you will be become winner.

UANG BUKAN SEGALANYA, TETAPI UANG BISA MEMBERI KESEMPATAN

memang memiliki uang bukan segalanya, tetapi dengan memiliki uang, kita bisa diberi lebih banyak kesempatan.

Uang, uang, uang. Orang selalu bicara hal yang satu ini. Aku, Anda, mereka, kita, pasti memikirkan juga soal uang ini. Tetapi apakah kita terikat dengannya? Apakah kita bisa saling bunuh karenanya? Apakah kita bisa memutuskan hubungan keluarga karenanya? Kita berlomba-lomba untuk mengejarnya, untuk mencarinya.
Lalu setelah punya banyak uang, digunakan untuk apa uang itu?

Semalam aku bertemu seorang pengusaha sukses dan terkenal. Aku pangling ketika melihatnya karena sekarang perawakannya kurus dan tampak lebih tua. Menurut cerita seorang teman, pengusaha ini ternyata baru saja melakukan transplantasi seluruh organ livernya. Dia dan keluarga sudah pasrah ketika divonis tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama dengan kerusakan liver yang diderita. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya beliau mendapat kabar untuk langsung berangkat ke negara tetangga dalam waktu 2 jam karena donor sudah ada. Syukurlah, operasi berbiaya Miliaran rupiah itu berjalan dengan lancar, dan tanda-tanda penolakan tubuh pengusaha tersebut dengan organ donornya tidak terjadi (kasus yang sangat jarang pula). Aku jadi teringat kisah alm.bayi Bilqis yang menderita atresia bilier (tidak ada saluran empedu sehingga menyebabkan kerusakan liver). Dengan dana pengobatan yang dikumpulkan melalui Koin Cinta Bilqis selama beberapa waktu (menakjubkan bagaimana banyak orang yang tergerak untuk menyumbang), akhirnya terkumpullah dana yang cukup untuk melakukan operasi. Sayangnya Bilqis meninggal dunia sebelum sempat melakukan operasi yang tertunda cukup lama karena ketiadaan biaya.

Yang aku lihat dari kejadian ini, memang memiliki uang bukan segalanya, tetapi dengan memiliki uang, kita bisa diberi lebih banyak kesempatan. Ya, lebih banyak kesempatan. Entah itu perawatan penyakit dengan biaya yang tidak sedikit. Entah itu membuka lapangan pekerjaan untuk orang banyak. Entah itu menyumbang untuk penelitian penyakit kanker. Entah untuk membangun yayasan untuk anak terlantar.

Dan semoga nanti setelah Anda punya banyak uang, Anda akan mempunyai kesempatan melakukan sesuatu bermanfaat untuk orang lain, lingkungan, dan negara dengan kepemilikan duniawi Anda itu (uang red.)

Bagaimana Mengubah Impian Menjadi Kenyataan

Just Do It

Jawabannya sederhana sekali.. LAKUKAN! Ya, lakukan apa yang diperlukan untuk mencapai mimpi. Banyak orang punya ide brilian, tetapi sedikit yang melakukannya. Itulah resep mengapa hampir semua orang kaya yang Anda temui menjadi seperti sekarang. Bukan berarti ide merekalah yang paling hebat. Bukan berarti merekalah yang selalu mendapat peluang. Bukan karena mereka bersekolah di luar negeri atau bersekolah sampai tingkat tinggi. Bukan karena mereka anak orang berpunya. Yang mereka punya hanyalah keyakinan bahwa mereka perlu mengambil tindakan.

Aku tahu banyak dari Anda tidak pernah bertindak karena takut Anda tidak cukup tahu-tidak siap. Lalu apa yang terjadi? Anda menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun menyiapkan diri, belajar, meriset, dan berusaha mengantisipasi apapun yang dapat terjadi. Mengapa? Karena Anda ingin mengakui seberapa banyak Anda tidak tahu. Anda tidak ingin terlihat sebagai orang yang gagal. Tetapi coba tebak, seperti itulah Anda terlihat bila tidak bertindak.

Bahkan sebenarnya para orang kaya tidak tahu semuanya. Bahkan mereka sama sekali tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan. Akan tetapi mereka berusaha sebaik-baiknya.
Lalu bagaimana cara mengalahkan ketakutan? Anda ingat ketika pertama kali masuk TK atau SD, Anda takut di hari pertama masuk sekolah? Anda menangis ketika ditinggal ibu ketika bel masuk berbunyi? Takut dengan pelajaran baru yang lebih rumit, takut bertemu guru yang galak? Tetapi akhirnya Anda berhasil melewatinya. Kemudian Anda masuk ke SMP, dengan ketakutan yang hampir sama. Tetapi Anda tetap menjalaninya dan melewatinya. Sama seperti ketika Anda masuk SMA dan akhirnya masuk Universitas. Anda mengalami ketakutan tidak mampu mengikuti pelajaran, takut terhadap para senior yang berbadan besar, takut mendapat nilai terrendah, takut tidak lulus mata kuliah. Tetapi toh Anda berhasil melewatinya. Anggap saja seperti hari pertama Anda masuk sekolah, lambat laun Anda akan menyelesaikannya. Sama seperti itu, Anda pun akan berhasil melewatinya. Anda harus santai. Buang rasa takut, rasa tertekan, dan ganti dengan gairah, ambisi, dan keyakinan yang akan tumbuh bersama tindakan.

Percayalah, Anda akan semakin baik dalam melakukannya. Entah itu membangun bisnis, berinvestasi di properti, berinvestasi di pasar saham. Ingat sebuah pepatah : “Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.” (Lao Tzu)

Bergerak Menuju Perubahan

Karena perubahan besar dimulai dari yang kecil…

Pusat pengkodean ulang perilaku-perilaku itu adalah cara berpikir yang menentukan cara bekerja. Ini adalah saatnya melakukan Re-Code Pikiran, dari hubungan yang berfokus pada kesalahan (problem-based) dan pasif (you tell them), menjadi lebih produktif dan berorientasi pemecahan masalah (solution-based) dan aktif (we ask them, they tell us). Jalankan berulang-ulang, maka terbentuklah keindahan manusia pada organisasi baru yang cerdas.

Rhenald Kasali. Re-Code Your Change DNA.

Pemikiran untuk berorientasi menyelesaikan masalah (problem solving oriented) daripada masalah itu sendiri saya dapatkan ketika bekerja sebagai manajer di sebuah rumah sakit. Waktu itu direktur tempat saya bekerja menganjurkan untuk melakukan hal itu pada setiap rapat. Baik rapat insidentil menyangkut kinerja karyawan, kasus-kasus medis, maupun rapat rutin antar manager dan direksi.

Di tempat di mana budaya menyalahkan orang lain supaya diri sendiri selamat, hal ini agaknya tidak mudah dilaksanakan. Bagai akar yang sudah lama merambat ke mana-mana sehingga akhirnya susah dicabut. Adanya budaya senior-junior dari jaman feodal dahulu. Adanya Power Syndrome dalam diri masing-masing individu membuat perubahan semakin jauh di mata (tapi dekat di hasrat untuk berubah, nah lho!?).

Manusia butuh sosok pemimpin yang bisa membawanya bergerak ke arah perubahan. Masih ingat slogan capres Amerika Serikat, Barrack Obama yang meneriakkan “Change!”. Masyarakat di sana memerlukan perubahan. Iya, perubahan menjadi lebih baik, lebih demokratis, lebih pro kerakyatan. Harapan perubahan itulah yang membawa Obama terpilih menjadi presiden berkulit hitam pertama di Amerika Serikat.

Demikian juga perubahan, yang dimulai dari struktur organisasi terkecil. Apakah itu hubungan antara penjaga toko dengan pemilik toko, apakah itu hubungan antara petugas cleaning service dengan manajernya, apakah itu hubungan seorang satpam dengan komandannya. Karena perubahan besar dimulai dari yang kecil (terutama dari diri sendiri dahulu). Dari kelompok-kelompok kecil ini akan menunjang suatu manajerial yang lebih besar, dan akhirnya menunjang suatu industri yang menunjang orang banyak pula.

Dan lakukan pula berulang-ulang. Habit is a process. Bagaimanapun juga tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap perubahan. Ada yang antusias dan cepat tanggap. Ada yang menunggu. Ada pula yang skeptis dan tidak melakukan apa-apa. Tetapi kesemuanya tetap harus beradaptasi dengan perubahan, kalau tidak mau tersingkir dari arus kehidupan (yang tentunya selalu berubah).

Sudah siapkah Anda berubah?

(Mirip) Ariel dan Cut Tari

Dalam adegan intim itu, tampak si pria membisikkan sesuatu ke si wanita : …

mirip ariel dan cut tari

Dalam adegan intim itu, tampak si pria membisikkan sesuatu ke si wanita : “Let me see your face”. Si wanita sempat berkata “jangan..”. Lalu pria tersebut melanjutkan kata-kata biusnya “Ada aku di dalamnya” (maksudnya ada wajah pria itu juga di dalam video amatiran tersebut)

Aku lantas berpikir, apakah mereka yang di dalam video itu (terutama si wanita) menyadari dampak terburuk yang mungkin akan timbul di kemudian hari? Ataukah memang hubungan intim seperti itu sudah berulang kali dilakukan dan didokumentasikan, sehingga pelaku (dalam hal ini korban) merasa biasa dan tidak canggung?

Kadang manusia melupakan konsekuensinya hanya untuk kenikmatan sementara. Kenikmatan yang sesaat, dan hilang ketika sudah terlampiaskan. Kenikmatan yang bagi banyak orang begitu memabukkan dan membuat ketagihan. Dalam hal ini bisa dimasukkan kenikmatan menenggak minuman ber-alkohol; kenikmatan menghisap bong; kenikmatan mengkonsumsi pil-pil pelambung khayal; kenikmatan melakukan hubungan seks tanpa batas; kenikmatan menikmati segala jenis makanan lezat tanpa batas juga; kenikmatan menghisap tembakau; dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang menjurus ke hal-hal yang negatif.

Aku sempat punya pemikiran, manusia hidup untuk menikmati kesementaraan. Bagaimana bisa?

Misal, dengan narkoba atau minuman keras orang bisa sejenak menikmati kebebasan dari masalah yang menghimpitnya; dengan menikmati harumnya dan bersihnya mobil yang baru dicuci meskipun esoknya sudah kehujanan lagi; menikmati berbagai makanan lezat dan mahal yang menurut salah seorang teman saya “manajemen WC”, karena esok paginya dibuang begitu saja di kloset. Usia dan fisik manusia juga bentuk kesementaraan bukan?

Pertanyaannya akankah hidup kita yang sementara ini diisi kenikmatan sesaat untuk diri sendiri, ataukah kenikmatan sesaat untuk memikirkan orang lain?

Aku sudah merasakan nikmatnya berbagi tulisan dan menjadi inspirasi untuk orang lain (semoga), aku sudah merasakan nikmatnya berpartisipasi dalam kegiatan sosial, aku sudah merasakan nikmatnya menjadi orang tua asuh.

Bagaimana dengan Anda?