Ditolak? Sakitnya Tuh Di…

“Pak, untuk sementara kami belum bisa support proyek bapak”, ucap Head Credit sebuah bank pelat merah, diiringi anggukan pelan kepala cabang di ruangannya yang sudah dingin itu.
Teh hangat manis yang sedari tadi sudah disuguhkan tak mampu menarik minatku lagi, meski mereka berkali-kali menawarkan hanya untuk memecah kesunyian dan kecanggungan obrolan kami.

“Wah, saya sudah keluar invest banyak pak, bagaimana ke depannya ya? Terus terang kami berharap sekali support dari institusi bapak, supaya orang-orang di belakang kami masih bisa terus bekerja, supaya customer yang sudah pesan tidak kecewa”, bagai gelandangan kelaparan yang mengiba kepada para pengunjung restoran, saya mencoba memberikan argumen terakhir meskipun tahu sanggahan seperti apapun tidak akan merubah keputusan mereka.
“Ya sudah pak, saya cuma bisa titip ini berarti..”, dengan enggan saya membuka tas ransel kumal saya untuk mengeluarkan berkas-berkas perusahaan dan pengajuan dari para konsumen. Sambil tetap berusaha tersenyum, senyum yang pedih.

Setelah mengucapkan salam, saya melangkah gontai turun dari lantai atas menuju ke pusat perbelanjaan yang memang satu kompleks dengan bank tersebut. Saya mengambil handphone dan menon-aktifkan plane mode yang sedari tadi saya aktifkan demi rapat penting tersebut. Nomor handphone di list favorit langsung saya cari untuk mengabarkan ke ujung sana.
“Halo papi!” “Papi lagi apa?”, suara anak keduaku langsung membuatku tersadar dari lamunan. Tak terasa air mata mengalir dan suaraku tercekat bergetar. Emosi yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga.
“Halo.. papi abis meeting, eh mana mami?”
“Papi papi, handphone apotek hilang!” kata anak sulungku merebut hp maminya dari tangan adiknya. “Oh ya papi, aku hari ini sudah berubah lho, udah bisa jagain adik-adik. Biar gak bikin papi mami sedih”
“Wah hebat! Boy, kamu harus tetap seperti itu ya, jagain adik-adik. Bagus pertahankan ya!” suara saya yang bergetar tertutup di keramaian mall.

Rekan-rekan, kisah ini terjadi tadi pagi tanggal 28 Juli 2017 tepat pukul 10.11, dua jam sejak awal rapat. Saya terus terang jarang sekali mendapatkan penolakan. Sekali penolakan yang traumatis adalah ketika summer camp agama Budha di puncak. Dua orang peserta mengaku tidak suka mulai dari cara saya berpendapat, gaya berpakaian, sampai cara saya merokok (padahal saya gak merokok!) ketika sedang rapat di hadapan orang banyak. Not a good way to judge someone you don’t even know in front of a crowd.
Penolakan kali ini rasanya beberapa kali lipat dari saat itu. Semoga tidak traumatis lagi *crossingfingers* *imsorryplsforgivemeiloveuthanku*. Tetapi yang membuat emosi begitu membuncah adalah pikiran tentang harapan mereka yang ada di belakang perusahaan ini, harapan para konsumen yang sudah menitipkan kepercayaan berupa uang muka, dan harapan keluarga kecil saya.

Memang saya akui ketika mereka memaparkan alasan-alasan penolakan tersebut, saya seperti kena skak mat berkali-kali. Salah saya terlalu gampang percaya kepada orang, salah saya tidak melakukan riset terlebih dahulu, salah saya yang menganggap remeh, salah saya tidak mau berusaha lebih ekstra di marketing, dan salah-salah SAYA yang lainnya. Kenapa saya di bold dan digaris bawah? Because I take 100% responsibility of my own life.

“Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it.” – Charles R. Swindoll

Setelah melakukan pemikiran positif apa yang akan terjadi, merenung berkali-kali tentang berapa banyak orang di belakang saya, mengubah postur tubuh positif, siangnya saya memutuskan untuk move on dan bertekad membuktikan bahwa mereka salah! Saya berkeliling kota untuk mencari inspirasi dan bertemu beberapa kenalan baru di bidang yang saya geluti. Tidak mudah memang, mengambil keputusan untuk maju terus dan membakar jembatan di belakang saya.
Hey, come on! Masalahmu tidak sebesar yang kamu kira! Going bankrupt is not the end of the world! Masih banyak orang yang masalahnya lebih besar darimu dan mereka survive. What doesn’t kill you makes you stronger.
Anda sendiri pernahkah ditolak dan kemudian menjadi down?

Note : Apabila Anda belum terbayang perasaan stress saya waktu itu, sempat terbersit keinginan untuk melompat dari lantai atas mall lho!
Untung saya malas naik ke atas, haha…

Terima kasih sudah membaca, berkunjung & memberikan komentar apabila peduli.
Saya menulis ini karena saya peduli. Sharing is caring. The more you share, the more you’ll get in return

Jangan Terima Sampah Orang Lain

Sampah siapa ini?

“TRUK SAMPAH”

Sahabat…..

Selamat menikmati hidup yang  bebas dari “sampah”. marah, benci, iri, dengki, dendam dan sakit hati.

Banyak orang seperti truk sampah. mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, dan kekecewaan.

Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, maka semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada kita.

Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, doakan mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang kita temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.

Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka :

Hidup itu 10% mengenai apa yang terjadi kepada kita, dan 90% tentang bagaimana kita menyikapinya.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari di tengah hujan…

Salam semangat…..

Resolusi Tahun Baru, Eh Lupa ..

Nah, tahun 2016 baru saja terlewati. Gegap gempita medsos pun penuh berisi harapan dan resolusi untuk tahun 2017.

Seberapa banyak yang masih ingat resolusinya di pertengahan Januari ini? Ayo ngacung! hehe.. Sebagian besar orang biasanya kembali lagi ke kebiasaannya yang lama, alih-alih melaksanakan resolusinya untuk perubahan lebih baik, betul atau betul?

Mengapa? Karena mungkin orang masih menganggap remeh impiannya dan resolusinya sendiri! Coba bayangkan resolusi Anda seperti udara yang kita hirup ketika kita menyelam di Raja Ampat, atau air yang kita cari ketika berkelana di gurun Sahara.

Jadikan impian sebagai kebutuhan, setiap menit, setiap jam, setiap hari. Itulah kuncinya.

So? Have U?

Pelajaran Dari Film King Kong (2005)

king kong

Sudah pernah nonton film King Kong? Bila sudah, saya mau berbagi apa yang saya dapat setelah kesekian kali menonton film ini.

Film Action-Drama ini menunjukkan bahwa terkadang keserakahan hanya mendapatkan keuntungan sesaat, bahkan merugikan orang lain. Jadi, ingatlah untuk berbagi rejeki dengan orang lain, berbagi pekerjaan / proyek dengan orang lain (yang bisa dipercaya tentunya), dan berbagi ilmu dengan orang lain.

Ingat, berbagi tidaklah menurunkan kuantitas kekayaan (ilntelektual, harta, dll), tetapi malah meningkatkan kualitas kekayaan Anda. Gak percaya? Buktikan dulu ya…

Salam

Merubah Dunia

Untuk merubah dunia, mulailah dari lingkungan sekitar.

Untuk merubah lingkungan, mulailah dari keluarga.

Untuk merubah keluarga, mulailah dari pasangan.

Untuk merubah pasangan, mulailah dari diri sendiri.

Untuk merubah diri sendiri, mulailah dari sifat yang Anda keluhkan tentang orang lain.

Lakukan Maka Anda Mendapatkan

Cerita ini ane dapet dari temen,ada seseorang yang hidup dalam kemiskinan yang amat sangat dan terus menerus,akhirnya dia pun berdoa kepada tuhan,ya tuhan saya bosan hidup miskin seperti ini tuhan,berikanlah saya kesempatan untuk menang satu lotre saja tuhan,tiap hari,tiap jam,tiap malam dia selalu berdoa,sampai dia tua dan akhirnya mati,masih dalam keadaan miskin teramat sangat.

ketika dia mati dia akhirnya berjumpa dengan apa itu yg disebut tuhan oleh nya,dan dia segera berlari dan menghampiri-NYA , kemudian dia bertanya ” ya tuhan,mengapa engkau tak mengabulkan 1 doaku itu ya tuhan,padahal aku telah meminta dan berdoa kepadamu setiap waktu” tuhan berkata ” aku telah menyuruh malaikat2ku untuk memutar nomer lotre itu sehingga kamu bisa menang besar” kata si miskin ” tapi kenapa aku tak pernah menang tuhan ” tuhan pun menjawab ” karna KAMU TAK PERNAH BELI LOTRE ITU “.

kadang kita merasa hidup ini kenapa seperti ini sih,selalu saja dia yang beruntung dan aku tidak,tapi apakah kita sadar,apa hanya cukup dengan berdoa tanpa bekerja kita bisa mencapai semua keinginan kita???

si miskin hanya berdoa dan meminta,tapi dia tidak pernah melaksanakan apa yang diminta kepada tuhan….
bagaimana bisa dia menang lotre,kan lotre nya saja dia tidak beli.

bagaimana kita bisa bekerja jika sekolah saja kita ogah2an…

bagaimana kita bisa berumah tangga jika hanya berdiam diri dan menunggu sang wanita datang…

DO SOMETHING and YOU WILL GET ANYTHING you want…

People come and go

People come & go, still life must go on

Anggaplah setiap orang yang datang dan pergi ke dan dari hidupmu mempunyai 1 misi, yaitu membuatmu menjadi lebih sabar, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih2 kebaikan yang lainnya. Setuju?

Kaget. ketika di-sms istri “Mbak M (pengasuh Lionel,red) mau minta berhenti soalnya gak kuat sering dipukulin Onel”

Wew.. Padahal kerja pun baru hitungan jari (jari tangan, belum sampe jari kaki ya! “Ughh, bau!” kata Onel). Langsung berpikir aneh-aneh. Apa gara-gara semalem buang sampah anak kost yang sampe 2 plastik hitam besar (padahal baru 2 hari), atau gara-gara kunci motor hilang? (Akhirnya kunci ketemu paginya setelah diubek2 seisi rumah, bahkan sampai bela belain ke TPS di dekat rumah buat bongkar bongkar sampah yang baru saja dibuang ditemani senter dan bau sampah busuk yang kayaknya udah seminggu gak diangkat, wueks).

Atau gara-gara kemarin malam aku mengumpat di dalam mobil waktu ada pengemudi motor memotong jalan kami seenak jalan kepunyaan moyangnya, grrr…! (ketahuan belangnya pas lagi marah)

Atau gara-gara tadi pagi aku interogasi mamanya Onel sambil bisik2 #CurigaModeOn# karena uang di dompet yang tergeletak di meja kerja semalaman berkurang lembaran merahnya. (Inipun setelah diingat2, dihitung2 dan bongkar2 buku primbon ternyata memang pas segitu, hadeuh udah makin pikun nih)

Kalau soal alasan Onel sering pukul pukul gak masuk akal juga. Memang sih anak ini kadang keluar tantrumnya, cuma kalau soal pukul-pukul gak sesering Mike Tyson kali, hahaha…

Yah, apa mau dikata, padahal kita sudah menyesuaikan dengan si mbak yang baru ini yang kelihatannya jujur, baik, asyik-asyik aja. Bahkan di awal-awal dia sempat bilang setelah nikah nanti mau kembali bekerja lagi sama kita.

Ada satu hikmah yang bisa saya tarik dari kejadian ini, bahwa lain kali jangan terlalu bergantung pada orang lain, dan tetap jadilah dirimu sendiri. Kok jadi dua hikmah? Gak nyambung pula! Biarin, yang nulis gue yang sewot situ.. Hahaha…

People come & go, but life must go on, right?

 

*Melamun ingat mantan-mantan pacar*

“Hush! Udah pada punya anak, gak elok”

#CLBK (Cerita Lama Buyar Kembali)#

 

 

Do what you love or love what you do?

Do what you love or love what you do?

Bersusah susah dahulu, bersenang senang kemudian.
Hidup susah dulu, kaya kemudian.
Benarkah slogan itu?
Rezeki terbesar dimiliki oleh orang yang mencintai pekerjaannya, menyukai apa yang dilakukannya.
Seberat apapun, sesulit bagaimanapun, dia akan ikhlas dan gembira mengerjakannya.
Sudahkah Anda mencintai pekerjaan Anda?
Do what you love or love what you do?

Attitude is Everything

The person with the negative attitude thinks “I CAN’T.” The person with the positive attitude thinks “I CAN.”

The person with the negative attitude dwells on problems. The person with the positive attitude concentrates on solutions.

The person with the negative attitude finds fault with others. The person with the positive attitude looks for the good in others.

The person with the negative attitude focuses on what’s missing. The person with the positive attitude counts his or her blessings.

The person with the negative attitude sees limitations. The person with the positive attitude sees possibilities.

 

ATTITUDE IS EVERYTHING Attitudes are a secret power working 24 hours a day, for good or bad. — Unknown

 

You can t always
control circumstances.
But you can control
your own thoughts.
— Charles Popplestone

Indonesia, our rich country

Suatu pagi di Bandar Lampung, kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak. Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

“Your country is so rich!” Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu.. “Indonesia doesnt need the world, but the world needs Indonesia” “Everything can be found here in Indonesia, u dont need the world” “Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !” “Singapore is nothing, we cant be rich without Indonesia . 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan.

Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat.” “Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. sangat terasa, we are nothing.” “Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras”

“Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”

“Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri.” “Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world..” So, let’s love our products,,,