Usaha Kuliner, Untung atau Buntung?

Usaha kuliner sebelah kiri tutup, usaha kuliner sebelah kanan tutup.. Yang bertahan malah yang..

Baru saja saya kedatangan tamu di apotek saya, pemilik dan pengelola warung makan di dekat area apotek. Warung makannya mempunyai variasi menu yang kurang lebih sama dengan warteg dan disajikan menggunakan touch screen! Maksudnya untuk memilih menu tinggal tunjuk jari kita ke lauk di balik screen (kaca), hehe.. Saya bertanya kabarnya dan kelancaran usahanya, mengingat ada dua restoran di area yang sama tutup usahanya, yaitu restoran ayam bakar dan satunya lagi restoran bebek. Keduanya menyajikan variasi menu masakan Indonesia beraneka ragam dan bertempat di satu atau dua ruko yang direnovasi layaknya restoran berkelas.

warteg-touchscreen

Beliau bercerita bahwa banyak faktor yang membuat warungnya dan warteg di seberang jalan (masih di area yang sama), tetap ramai. Apalagi kalau bukan faktor konsumen pelanggan mereka. Menurut pandangan saya, penyantap kuliner mempunyai pangsa pasar yang lebih besar daripada penikmat kuliner. Yang dimaksud penyantap kuliner adalah makan untuk hidup, sedangkan penikmat adalah hidup untuk makan, hehe.. Maksudnya  masyarakat yang lebih memilih higienitas makanan, rasa yang di atas rata-rata, penyajian cantik yang menggugah selera, bahkan kadang mereka juga memilih atmosfer dan suasana tempat mereka bisa kongkow, ngobrol bisnis, kumpul arisan, bekerja dengan fasilitas wifi yang disediakan, dan lain-lain.
Seperti kita tahu bersama, para penyantap ini umumnya mempunyai keinginan yang harus dipuaskan ketika makan. Adalah rasanya enak, porsinya banyak, harganya murah, dapat gratisan pisang pula, haha.. Nah, analisis beliau pelanggan warungnya kebanyakan pekerja kantor dan pekerja lapangan yang maunya itu tadi, karena kalau dilihat sekilas ya warungnya merupakan prototype warteg-warteg yang apa adanya bukan ada apanya, haha..  Faktor higienitas nomor kesekian yang penting murah, enak, banyak, ya tho? Benar apa benar?

Pada prinsipnya beliau mengatakan bahwa usaha kuliner harus dikelola sendiri supaya bisa bertahan. Begitu jauh perbedaan apabila pemilik yang turun tangan langsung dibandingkan dengan karyawan. Pemikiran karyawan sederhana, yaitu hanya bekerja membantu pemilik untuk mendapatkan gaji. Kebalikan dengan pemikiran pemilik yang berusaha bagaimana caranya supaya usahanya tetap bertahan dan bahkan tumbuh lebih besar lagi. Saya langsung bertanya kira-kira sampai kapan harus dikelola sendiri? Beliau tidak bisa menjawab karena memang dari awal buka bertahun-tahun sampai sekarang, beliau masih turun tangan langsung di area pengolahan masakan.  “Waduh, kalau mikirnya gitu, gak bisa ngerjain usaha yang lain dong?”, pikir saya dalam hati. Saya mau jadi Business Owner, bukan Self Employee (lihat kuadran EBSI Rich Dad Poor Dad)

cashflow quadrant EBSI

Sekilas saya membandingkan restoran franchise yang berhasil maupun gagal. Mereka sama-sama punya sistem, mereka sama-sama teruji, sama-sama punya jalur distribusi, sama-sama punya training karyawan, tetapi mengapa ada yang gagal dan ada yang berhasil? Apa yang membedakannya?

Nantikan di tulisan saya berikutnya ya..

gambar1, gambar2

Kenali Pelanggan Anda

Baru saja saya datang ke sebuah bank dengan tergesa2 hanya untuk menarik uang di atmnya, tiba2 ada sapaan : “Selamat pagi pak dokter!”
Sekilas saya pikir mungkin pasien atau seseorang yg saya kenal, ketika saya tengok ke arah suara, berdirilah seorang pria berpakaian security yg tersenyum sambil melambaikan tangan.

Saya coba ingat2 kenapa dia masih ingat saya padahal saya jarang ke bank itu, terakhir bbrp hari yg lalu utk print out buku dan ya, bapak itu yg menerima saya sambil membuka halaman pertama mempersilahkan duduk kemudian berjalan ke CS dan berkata silahkan tunggu pak dokter..

Mungkin begitulah salah satu poin service of excellence. Begitu menyentuh ketika kita diingat padahal hanya sesekali datang, dibandingkan dua bank lain yang mungkin hampir tiap hari saya mondar-mandir (merencanakan perampokan *grin) ke sana.

As simple as that, tapi bisakah kita mengingat satu persatu pelanggan kita bahkan yang hanya sesekali datang untuk belanja hanya Rp 1.000?

Food for your thoughts

Resiko Usaha (Contoh Kasus Hukum Pembatalan Sepihak Disertai Ancaman)

Dalam memulai suatu pekerjaan / proyek, pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh penyelenggara maupun pelaksana. Meskipun resiko bisa diminimalisir, tetap saja tidak dapat menihilkan resiko-resiko lain yang muncul di luar dugaan maupun di luar usaha manusia seperti Force Majeur bencana alam, topan badai, dll.

Baru kemarin kami dapat klien yang tidak mau menanggung resiko sama sekali. Dengan tenggat waktu yang sempit, klien ini sudah menghubungi beberapa supplier tanpa hasil, akhirnya menghubungi kami. Rupanya klien ini dapat proyek untuk mengirim batu split sampai ke Jakarta dengan tenggat waktu maksimal jam 05.00 pagi keesokan harinya, yang tidak diberitahukan di awal perjanjian kepada kami. Dengan prasangka baik, dan menjunjung profesionalisme kami menyanggupi pekerjaan itu (tanpa mengetahui deadline dan resiko-resikonya) setelah klien mengirimkan uang muka sebesar 50% dan PO / Purchase Order sekitar pukul 20.00 WIB (tertera di PO, pengiriman dilakukan 1 hari setelah PO keluar).

Masalah mulai muncul ketika pengiriman tidak sampai tujuan tepat pada waktu yang diinginkan oleh klien. Tiba-tiba klien membatalkan perjanjian secara sepihak dan meminta uang muka dikembalikan sepenuhnya. Klien beralasan belum menerima barang sama sekali dan malah menuduh kami melakukan penggelapan uang perusahaan.

Kami bingung, truk sudah melaju di aspal semalaman dari Bojonegara, Banten (berisikan batu split, tentunya), sebagian sudah sampai di Balaraja tetapi karena driver kelelahan dan memperhitungkan faktor keselamatan mereka memutuskan beristirahat. Dan sebagian memutuskan beristirahat di Serang karena waktu yang tidak memungkinkan untuk memasuki jam protokol Jakarta (jam 22.00 sd jam 05.00 WIB).

Klien datang keesokan harinya untuk melihat truk-truk tersebut (setelah pembatalan sepihak olehnya), tetapi tetap menuduh kami tidak profesional, bahkan menuduh truk-truk itu kosong isinya! Dia bersikeras untuk meminta seluruh DP yang diberikan disertai ancaman akan membawa-bawa kepolisian dengan tuduhan penggelapan. Akhirnya kami sepakat untuk mengembalikan 2/3 (dua pertiga) dari total DP yang dikirimkan, meskipun kami masih mengalami kerugian.

Melalui konsultasi kami dengan beberapa kuasa hukum, kami tidak diharuskan mengembalikan uang muka karena pembatalan bukan dari pihak kami. Toh, batu sudah termuat dan truk sudah berjalan, lalu siapa yang akan menanggung biaya operasional yang sudah berjalan? Belum lagi penjualan batu yang sudah termuat, siapa pula yang akan menerima?

Yang kami sayangkan adalah ancaman-ancaman yang diberikan klien ini, Sebegitu rendahnya kah nilai hukum di mata dia? Pasal penggelapan apa yang dia maksud? Apakah bisa kami tuntut balik dengan pasal ancaman dan penghinaan Pasal 310 s.d 321 KUHP? Sebegitu rendahkah nilai aparat hukum di mata dia? Dengan kata-kata “Saya telepon kepolisian di mabes, tinggal ciduk saja pelaku penggelapan ini”. Demikiankah prosedur hukumnya? Hanya dengan sekali telepon bisa langsung menangkap seseorang?

Bagaimana menurut Anda?

Merubah Budaya KKN di Indonesia, Sulitkah?

Sulitkah merubah budaya KKN di Indonesia?

Pejabat sekarang pintar cari celah untuk mengisi pundi2 uangnya. Lihat saja dari banyak kasus korupsi yang tertangkap tangan oleh KPK, modusnya sudah berbagai macam. Ada yang ketemu di SPBU,

Sebelum diketok palu siapa pemenang tender, pejabat sudah minta jatah sekian persen, baik pusat maupun daerah.
Pengusaha pun akhirnya mensiasati keuntungan yang menipis (supaya usaha bisa berjalan terus) dengan mengurangi kualitas produksi. “Usaha legal dan sesuai peraturan saja ada dana taktisnya (upeti-red.), mending sekalian ilegal dengan keuntungan berkali lipat”, demikian keluh seorang pengusaha. Sempat saya tanyakan, “Lha lurus2 saja tho pak, gak usah ngasih sana-sini.”. Kemudian dia bercerita pernah digerebek usahanya karena jatah setoran kurang. “Biasa, entah dicari2 kesalahan kita, atau suatu saat bila ada keperluan dipersulit”, begitu jawabnya.

Lingkaran setan yang terus berputar. Pengusaha butuh pejabat untuk dipermudah atau disupport dalam usahanya, sedangkan pejabat memanfaatkan pengusaha. Bagaimana memutusnya? Mulai dari mendidik generasi penerus kita, semoga Indonesia bisa bebas dari praktik KKN walaupun dibutuhkan waktu beberapa generasi.

Bukan hanya dalam dunia usaha saja praktik KKN ini masih berlangsung. Tengok saja calo-calo penerimaan PNS / kepolisian / Perguruan Tinggi ternama yang semakin marak. Ada juga pejabat yang membangun kekuasaan dinasti keluarganya dengan menempatkan beberapa kerabat di posisi strategis pemerintahan. Ada rekan yang berkomentar “Lho itu khan hak asasi mereka, masak anak pejabat gak boleh jadi pejabat?”. Ya kalau sesuai kapasitas dan kapabilitasnya, kenapa tidak? Jawab saya dalam hati.

Bagaimana menurut Anda?

Berbisnis Dengan Hati

berbisnis dengan hati

Berbisnislah dengan hati. Sering denger ya kalimat itu?
Sedangkan kenyataan di lapangan :

Pernahkah kita ikut bahagia melihat pesaing sukses?
Pernahkah kita ikut bangga melihat karyawan/mantan karyawan kita sukses/melebihi sukses kita?
Pernahkah kita memikirkan kebutuhan (lahir batin) para karyawan/staff yang sudah banyak membantu kita?
Ayo sama2 merenung..

Hidup cuma sekali, harta tidak dibawa mati.
Semakin banyak Anda berbagi, semakin banyak Anda diberi.

Nah, bagaimana kalau sekarang posisi Anda masih sebagai karyawan?

Ya, doakan supaya rekan kerja bisa maju, doakan supaya usaha boss lebih maju, dan doakan supaya boss tidak pelit, hehe..

Cara Menarik Pelanggan Agar Tetap Lengket

Tips Oke Menggaet Pelanggan Agar Tetap Lengket

Seringkali dalam berbelanja, orang membeli sebuah produk tidak tergantung pada kualitas barangnya semata. Sikap ramah pelayan, suasana nyaman yang sengaja dihadirkan oleh pemilik usaha juga memberikan pengaruh yang besar bagi pembeli untuk betah berlama-lama memilih barangnya hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Bahkan tidak jarang bagi pembeli yang terpuaskan akhirnya menjadi pelanggan yang setia. Lalu trik jitu apa yang bisa dilakukan para pengusaha untuk membuat pembeli menjadi pelanggan yang loyal?

“Uh…..jutek banget sih  pelayannya, bikin kapok buat datang lagi,”ujar seorang ibu saat mendapatkan pelayanan yang tidak memuaskan dari sebuah toko pakaian di suatu pusat perbelanjaan. Gerutuan semacam itu tentu tak mengenakkan baik bagi konsumen maupun bagi pemilik usaha. Sebab kejadian di atas tak hanya membuat pembeli malas melakukan transaksi tetapi juga enggan untuk kembali lagi ke tempat usaha semula. Sementara bagi pemilik usaha, ia kehilangan kesempatan menuai keuntungan akibat sikap karyawan yang minus terhadap konsumen. Padahal sesuai dengan pepatah lama, yang menganggap seorang pembeli adalah raja mewajibkan pemilik usaha untuk memberikan service sebaik mungkin kepada pelanggannya.

Dan bagi pemilik usaha yang menyadari hal tersebut, segala macam cara akan dilakukan guna mewujudkan kepuasan pelanggan seperti yang dilakukan oleh Budi Utama, pemilik Global Cellular dalam merangkul pelanggan. “Sejak pertama membuka usaha saya berusaha semaksimal mungkin menyenangkan pelanggan misalnya saja memberikan air mineral kepada setiap calon pembeli 5 menit setelah mereka datang.  Sebenarnya sifatnya lebih kepada cara kita menjamu mereka. Saya juga tidak merasa rugi jika ternyata si calon pembeli tidak jadi melakukan transaksi,”tutur Budi, Cara Budi ini terbilang efektif untuk menggaet pelanggan. Buktinya ia mampu mengembangkan usaha jual beli handphone-nya dengan cepat. Tak heran, jika pada awalnya ia hanya memiliki satu lapak untuk berjualan maka sekarang ini ia mampu mengembangkan cabang hingga 5 buah dengan omzet per bulannya mencapai ratusan juta rupiah.

Yuliana Agung, seorang pengamat marketing menyebutkan pada dasarnya seseorang sangat tertarik untuk membeli suatu produk tergantung pada kebutuhan dasarnya. Misalnya saja  jika ia ingin membeli baju maka biasanya yang paling diperhatikan adalah kualitas bahan, design atau style-nya yang bagus. Sementara apa yang dilakukan para penjual dengan memberikan minuman atau camilan seperti manisan hanyalah suatu bentuk pelayanan atau servis agar konsumen atau pembeli merasa lebih senang sehingga tertarik untuk membeli dan menjadi pelanggan yang selalu setia untuk datang.

“Pada dasarnya proses pelayanan adalah overall dimulai dari sapaan, tatapan mata, intonasi, volume, dan bagaimana cara pemiliki usaha mendengarkan dan memberikan pelayanan kepada calon pembelinya. Namun demikian yang paling penting adalah kualitas barang-barang yang dijual. Dengan memberikan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan konsumen maka kita sudah dapat memberikan pelayanan maksimal sebesar 75 persen, sementara masalah layout, kemasan atau packaging hanya sebesar 25 persen dari total semua pelayanan yang diberikan,”urai Yuliana Agung. Sementara untuk masalah sikap dan perilaku pelayanan sulit untuk dilakukan identifikasi besarannya sebab hal itu sesuatu yang sangat subyektif dan tidak ada standar bakunya, namun demikian Yuliana Agung meyakini bahwa sikap yang baik akan mendorong sukses tidaknya seorang calon pelanggan mau melirik produk yang dihasilkan oleh pemilik usaha.

Dua Strategi Menggaet Calon Pelanggan dan Melanggengkannya.

Mencari pelanggan tentu saja bukan perkara mudah apalagi untuk mempertahankannya agar terus loyal pada produk yang ditawarkan. Sebab menurut Yuliana Agung, tidak ada sesuatupun yang tetap dan loyal dalam dunia bisnis kecuali jika terjadi suatu monopoli. “Setiap orang tentu saja ingin mencoba sesuatu yang baru, tidak mungkin jika selamanya mereka hanya setia pada satu produk saja kecuali jika ada monopoli. Misalnya saja pada monopoli telepon seluler oleh Telkomsel dahulu, sehingga pelayanan apapun yang diberikannya akan tetap diterima konsumen baik pelayanan tersebut  baik ataupun buruk karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan, ”ungkapnya.

Namun demikian Yuliana menambahkan bahwa pada dasarnya loyalitas pelanggan bisa bertahan lama jika produk tersebut mampu berinovasi artinya membuat improvisasi sehingga tampilan produknya menjadi lebih dinamis sebab jika pemilik usaha hanya bertahan pada satu jenis produk dengan tampilan yang biasa-biasa saja maka impian mendapatkan pelanggan yang setia akan hilang dengan sendirinya. Salah satu bentuk inovasi misalnya saja dengan membuat sesuatu barang menjadi lebih detil. “Kalau untuk usaha sepeda motor misalnya, yang harus diperhatikan detilnya adalah pada bagian sparepart-nya,”tambah Yuliana.

Untuk membuat calon pelanggan menjadi pelanggan, Yulianan Agung memberikan strategi jitu yaitu dengan menggunakan strategi akuisisi  yaitu menonjolkan produk yang dijual sehingga nantinya orang akan membeli produk bukan pelayanannya misalnya saja  pembelian detergen dan juga shampo. Tetapi untuk kasus yang mementingkan pelayanannya misalnya sekolah maka ia bisa melakukan dengan cara pendekatan secara psikologis. Sementara untuk membuat pelanggan mau  menjadi pelanggan yang setia sebaiknya dilakukan dengan strategi ritensi, dengan memuaskan setiap keinginan pelanggan meski itu juga belum cukup kuat sebab banyak kompetitor yang datang.

Untuk itu dalam strategi ini ada tiga hal yang wajib dilakukan:

  1. Meningkatkan produktivitas barang atau produk yang telah dihasilkan misalnya dengan membuat produk yang unik yang tidak dimiliki oleh tempat lain.
  2. Pemilik usaha harus memperhatikan harga yang dipasang pada produk yang dihasilkan.
  3. Selalu membuat ikatan emosional dengan pelanggan. Pada hal yang terakhir inilah peran service sangat dominan. Sebab keputusan membeli  seseorang juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang diterimanya

Tips Menggaet Pelanggan

 

Bagi Anda yang memiliki usaha sendiri, mengumpulkan pelanggan adalah suatu keharusan untuk mendongkrak keuntungan. Tapi perlu dicatat bahwa usaha akan tetap eksis jika pelanggan yang datang tak hanya sekali saja bertandang tetapi dengan loyal selalu datang untuk mengkonsumsi produk yang kita hasilkan baik itu produk riil ataupun yang berupa jasa.

Karenanya, tips jitu menggaet pelanggan berikut ini perlu dicoba:

(1). Hal pertama yang wajib dilakukan untuk membuat pelanggan terus setia pada produk yang anda tawarkan adalah dengan melakukan strategi positioning yang bagus dan komunikasi yang tepat. Maksudnya dalam menawarkan produk cobalah untuk menggunakan cara pemasaran yang tepat sesuai dengan segmen market yang disepakati. Jangan lupakan juga masalah kualitas sebab secara psikologis, orang akan lebih tertarik untuk melakukan transaksi setelah terlebih dahulu melihat kualitas produknya. Kemudian lakukan komunikasi yang baik dengan pelanggan baru maupun pelanggan lama.

(2). Setelah memiliki produk unggulan yang berkualitas dan menampilkan keramahan terhadap para pelanggan maka kenyamanan juga  akan memberikan nilai plus terhadap calon pembeli. Sebab semakin nyaman orang berada di suatu lingkungan maka kemungkinan untuk datang lagi juga akan semakin besar.

Sumber: http://tipsoke.com/tips-oke-menggaet-pelanggan-agar-tetap-lengket.html

 

Contoh Proposal Usaha

Contoh proposal bisnis kecil

Dalam perjalanan sebuah usaha, terkadang dibutuhkan suntikan dana untuk memulai atau mengembangkan usaha tersebut. Berikut contoh proposal usaha yang dapat dibuat untuk mengajukan kredit ke perbankan atau investor.

Contoh proposal bisnis kecil

A. MANAJEMEN
• Nama Perusahaan
• Nama Pemilik/Pimpinan Perusahaan
• Bidang Usaha
• Jumlah Karyawan/Tenaga Kerja

B. PEMASARAN
• Produk yang Dipasarkan
• Sasaran Konsumen/Pembeli
• Wilayah Pemasaran
• Rencana Penjualan/Tahun
• Penetapan Harga Jual

C. PRODUKSI/OPERASI
• Kapasitas Produksi
• Ketersediaan Bahan Baku
• Fasilitas/Sarana Produksi
• Dampak Lingkungan

D. KEUANGAN
• Total Pembiayaan Proyek
• Modal Sendiri
• Pinjaman yang Diajukan
• Jangka Waktu Pengembalian Pinjaman
• Penjualan per-Tahun (Rp)
• Keuntungan per-Tahun (Rp)
• Return On Investment (ROI)
• Break Even Point

Peningkatan Bentuk Perusahaan Dari CV ke PT

Pada prinsipnya, suatu perusahaan berbentuk CV bisa ditingkatkan bentuk usahanya menjadi PT dengan menggunakan riwayat atau ijin-ijin CV sebelumnya.

sumber

Bagaimana cara meningkatkan bentuk perusahaan CV menjadi PT?

Permasalahan dan pertanyaan serupa sering terjadi dalam praktek. Pada prinsipnya, suatu perusahaan berbentuk CV bisa ditingkatkan bentuk usahanya menjadi PT dengan menggunakan riwayat atau ijin-ijin CV sebelumnya.

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut sebagai berikut:

1.    Revaluasi Asset

Pada dasarnya CV adalah suatu persekutuan yang didirikan berdasarkan Perjanjian. Karena bukan badan hokum, di dalam CV tidak ada pemisahan kekayaan antara kekayaan para perseronya (terutama persero aktifnya) dengan kekayaan CV. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui berapa jumlah kekayaan dari CV yang dipisahkan dari kekayaan  para perseronya, dimana kekayaan tersebut akan di masukkan sebagai kekayaan PT yang akan dibentuk, maka harus dilakukan revaluasi asset dari CV tersebut.

Untuk itu CV dimaksud pertama-tama harus melakukan audit seluruh kekayaan yang dimilikinya. Audit tersebut harus dilakukan oleh akuntan public independen. Setelah diketahui berapa besar total asset yang dipisahkan oleh para persero dalam CV tersebut maka asset CV tersebut akan dianggap sebagai setoran modal para persero CV ke dalam PT.

2.    Iklan di Surat Kabar nasional

Para persero kemudian melakukan iklan di surat kabar yang beredar nasional atas rencana perubahan status CV menjadi PT, sekaligus mengumumkan pula neraca hasil audit atas total asset CV yang akan disetorkan oleh para persero tersebut. Tujuan dari iklan tersebut juga dimaksudkan untuk memberitahukan kepada public dan para kreditur bahwa hak dan kewajiban dari CV tersebut beralih kepada PT.

3.    Akta Pendirian PT

Setelah tahap pertama dan tahap kedua tersebut di lakukan, maka tanpa menunggu jeda waktu tertentu, pemilik CV bisa langsung membuat akte pendirian PT, yang pada premisenya secara garis besarnya menerangkan bahwa para persero dari CV mendirikan PT dengan menyetorkan seluruh kekayaan dari CV yang sudah diaudit di ke dalam kekayaan PT.

Dalam praktek di masyarakat, banyak pula para persero dari CV yang menganggap proses tersebut rumit dan panjang. Oleh karena itu, kadang diambil jalan lain, yaitu mendirikan PT baru dengan menggunakan nama yang sama dengan nama CV tersebut. Hal tersebut dapat ditempuh juga sebagai alternative yang mudah dan cepat; sepanjang riwayat atau latar belakang berupa pengalaman kerja atau perijinan dari  CV tersebut tidak perlu digunakan oleh PT dalam menjalankan usahanya.

 

sumber

Prosedur dan persyaratan mendirikan CV

CV dapat didirikan dengan syarat dan prosedur yang lebih mudah daripada PT, yaitu hanya mensyaratkan pendirian oleh 2 orang, dengan menggunakan akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Walaupun dewasa ini pendirian CV mengharuskan adanya akta notaris, namun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta notaris

Syarat pendirian :

  1. Copy KTP para pendiri, minimal 2 orang
  2. Copy Kartu Keluarga ( jika penanggung jawab / Direktur Utama wanita )
  3. Copy NPWP Pribadi Penanggung Jawab / Direktur Utama.
  4. Copy Surat Keterangan Domisili dari Pengelola gedung, jika perusahaan berdomisili di gedung
  5. Pas Foto Penanggung Jawab / Direktur Utama, Ukuran 3×4 = 2 Lembar berwarna
  6. Khusus Jakarta tempat pemukiman atau perumahan tidak diperbolehkan untuk kantor
CV lengkap meluputi :
  1. Akta Notaris
  2. Surat Keterangan Domisili Perusahaan
  3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
  4. Pengesahan Pengadilan Negeri
  5. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)
  6. TDP (Tanda Daftar Perusahaan)

CV atau Comanditaire Venootschap adalah bentuk usaha yang merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih oleh para pengusaha yang ingin melakukan kegiatan usaha dengan modal yang terbatas. Karena, berbeda dengan PT yang mensyaratkan minimal modal dasar sebesar Rp. 50jt dan harus di setor ke kas Perseroan minimal 25%nya, untuk CV tidak ditentukan jumlah modal minimal. Jadi, misalnya seorang pengusaha ingin berusaha di industri rumah tangga, percetakan, biro jasa, perdagangan, catering, dll dengan modal awal yang tidak terlalu besar, dapat memilih CV sebagai alternatif Badan Usaha yang memadai. Apakah bedanya CV dengan PT?

Perbedaan yang mendasar antara PT dan CV adalah, PT merupakan Badan Hukum, yang dipersamakan kedudukannya dengan orang dan mempunyai kekayaan yang terpisah dengan kekayaan para pendirinya. Jadi, PT dapat bertindak keluar baik di dalam maupun di muka pengadilan sebagaimana halnya dengan orang, serta dapat memiliki harta kekayaan sendiri. Sedangkan CV, dia merupakan Badan Usaha yang tidak berbadan hukum, dan kekayaan para pendirinya tidak terpisahkan dari kekayaan CV.

Karakteristik CV yang tidak dimiliki Badan Usaha lainnya adalah: CV didirikan minimal oleh dua orang, dimana salah satunya akan bertindak selaku Persero Aktif (persero pengurus) yang nantinya akan bergelar Direktur, sedangkan yang lain akan bertindak selaku Persero Komanditer (Persero diam). Seorang persero aktif akan bertindak melakukan segala tindakan pengurusan atas Perseroan; dengan demikian, dalam hal terjadi kerugian maka Persero Aktif akan bertanggung jawab secara penuh dengan seluruh harta pribadinya untuk mengganti kerugian yang dituntut oleh pihak ketiga. Sedangkan untuk Persero Komanditer, karena dia hanya bertindak selaku sleeping partner, maka dia hanya bertanggung jawab sebesar modal yang disetorkannya ke dalam perseroan.

Perbedaan lain yang cukup penting antara PT dengan CV adalah, dalam melakukan penyetoran modal pendirian CV, di dalam anggaran dasar tidak disebutkan pembagiannya seperti halnya PT. Jadi, para persero harus membuat kesepakatan tersendiri mengenai hal tersebut, atau membuat catatan yang terpisah. Semua itu karena memang tidak ada pemisahan kekayaan antara CV dengan kekayaan para perseronya.

BAGAIMANA CARA MENDIRIKAN CV?

CV dapat didirikan dengan syarat dan prosedur yang lebih mudah daripada PT, yaitu hanya mensyaratkan pendirian oleh 2 orang, dengan menggunakan akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Walaupun dewasa ini pendirian CV mengharuskan adanya akta notaris, namun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta Notaris.

Pada saat para pihak sudah sepakat untuk mendirikan CV, maka dapat datang ke kantor Notaris dengan membawa KTP. Untuk pendirian CV, tidak diperlukan adanya pengecekan nama CV terlebih dahulu. Oleh karena itu proses nya akan lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan pendirian PT.
Namun demikian, dengan tidak didahuluinya dengan pengecekan nama CV, menyebabkan nama CV sering sama antara satu dengan yang lainnya.
Pada waktu pendirian CV, yang harus dipersiapkan sebelum datang ke Notaris adalah adanya persiapan mengenai:
1. Calon nama yang akan digunakan oleh CV tersebut
2. tempat kedudukan dari CV
3. Siapa yang akan bertindak selaku Persero aktif, dan siapa yang akan bertindak selaku persero diam.
4. Maksud dan tujuan yang spesifik dari CV tersebut (walaupun tentu saja dapat mencantumkan maksud dan tujuan yang seluas-luasnya).

Untuk menyatakan telah berdirinya suatu CV, sebenarnya cukup hanya dengan akta Notaris tersebut, namun untuk memperkokoh posisi CV tersebut, sebaiknya CV tersebut di daftarkan pada Pengadilan Negeri setempat dengan membawa kelengkapan berupa Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) dan NPWP atas nama CV yang bersangkutan.

Apakah itu akta, SKDP, NPWP dan pendaftaran pengadilan saja sudah cukup?
Sebenarnya semua itu tergantung pada kebutuhannya. Dalam menjalankan suatu usaha yang tidak memerlukan tender pada instansi pemerintahan, dan hanya digunakan sebagai wadah berusaha, maka dengan surat-surat tersebut saja sudah cukup untuk pendirian suatu CV. Namun, apabila menginginkan ijin yang lebih lengkap dan akan digunakan untuk keperluan tender, biasanya dilengkapi dengan surat-surat lainnya yaitu:
1. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
2. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)
3. Tanda Daftar Perseroan (khusus CV)
4. Keanggotaan pada KADIN Jakarta.

Pengurusan ijin-ijin tersebut dapat dilakukan bersamaan sebagai satu rangkaian dengan pendirian CV dimaksud, dengan melampirkan berkas tambahan berupa:
1. Copy kartu keluarga Persero Pengurus (Direktur) CV
2. Copy NPWP Persero Pengurus (Direktur) CV
3. Copy bukti pemilikan atau penggunaan tempat usaha, dimana
a. apabila milik sendiri, harus dibuktikan dengan copy sertifikat dan copy bukti
pelunasan PBB th terakhir
b. apabila sewa kepada orang lain, maka harus dibuktikan dengan adanya
perjanjian sewa menyewa, yang dilengkapi dengan pembayaran pajak sewa
(Pph) oleh pemilik tempat.
sebagai catatan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta, untuk wilayah Jakarta, yang
dapat digunakan sebagai tempat usaha hanyalah Rumah toko, pasar atau perkantoran.
Namun ada daerah-daerah tertentu yang dapat digunakan sebagai tempat usaha yang
tidak membayakan lingkungan, asalkan mendapat persetujuan dari RT/RW setempat
4. Pas photo ukuran 3X4 sebanyak 4 lembar dengan latar belakang warna merah

Jangka waktu pengurusan semua ijin-ijin tersebut dari pendirian sampai dengan selesai lebih kurang selama 2 bulan.

Sebagai penutup, saya sarankan agar dalam mendirikan suatu bidang usaha, alangkah baiknya untuk dipertimbangkan dari segala segi, tidak hanya dari segi kepraktisannya, namun juga dari segi pembagian resiko di antara para persero, agar tidak terjadi pertentangan di kemudian hari.

sumber

Segarnya Bisnis Sayur Organik

Menjadi karyawan dengan jabatan tinggi di perusahaan multinasional, tidak menyurutkan langkahnya untuk mundur dan menjadi pengusaha

Bekerja di perusahaan finansial berskala multinasional tak membuat Benny Sanusi terlena. Status “Pegawai” yang disandang Benny menyadarkannya bahwa masa produktif seorang pegawai ada batasnya. Apalagi banyak karyawan baru yang berstatus fresh graduate – yang disebut Benny sebagai Darah Muda – yang bekerja di perusahaannya. Secara perlahan, para pegawai muda penuh bakat ini menggeser peran dan posisi para senior. Jauh sebelum masa pensiun, ia sudah merencanakan langkah untuk menjadi entrepreneur. Sebuah pilihan, yang menurut orang-orang terdekat Benny, dinilai cukup berisiko.
Rasa cintanya pada dunia pertanian membuatnya berani mengajukan resign dari sebuah perusahaan multinasional saat karir di puncak, untuk merintis kebun organik. Dalam waktu dekat, ia menargetkan akan mengekspor sayur dan buah organiknya ke Singapura.

Sedari dulu, di antara rekan kerjanya, Benny Sanusi terkenal freak akan sayuran organik. Setiap ada kesempatan, ia akan selalu menjelaskan kelebihan sayuran organik kepada teman-temannya. Bahkan, di jok belakang mobil milik pria kelahiran 22 Mei 1957 ini dipenuhi dengan berkas-berkas pertanian organik. Padahal, Benny bekerja di sebuah perusahaan finansial berskala multinasional. Bukan di perusahaan yang berkaitan dengan pertanian dan perkebunan.
“Saya 23 tahun berkarir di JP Morgan. Sejak 1981 hingga 2003. Pada tahun 2000 sebenarnya sudah mengajukan pengunduran diri, tapi nggak dikasih sama perusahaan,” cerita Benny.

Setidaknya, Benny sudah 23 tahun berkarir di JP Morgan, sebuah perusahaan finansial yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Ia memulai karir dari bawah. Sebagai seorang staf administrasi. Sementara itu, jabatan terakhir yang diembannya setara posisi asisten manajer. “Saya bekerja di JP Morgan sejak 1981 dan resmi berhenti pada 2003,” terang Benny.

Sejatinya, sudah sejak tahun 2000, dirinya mengajukan pengunduran diri. Namun, karena Benny masih dibutuhkan di perusahaan, proses mundur pun harus tertunda. Namun, sejak tahun 2000, hati Benny sudah berpaling ke Mega Mendung, tempat lahan organiknya berada. Sembari bekerja, ia mempelajari seluk beluk tanaman organik, termasuk manfaat sayuran organik bagi tubuh. Di mata teman-temannya, Benny dikenal freak akan sayuran organik. Bahkan, mobilnya dipenuhi berkas mengenai sayuran organik.
Sebenarnya, Benny terlebih dulu berkenalan dengan dunia pertanian lewat sistem penanaman hidroponik. Seorang kawan memperkenalkan sistem itu. Tapi, di tengah penjajakan atas dunia hidroponik, Benny justru kepincut pesona sayuran organik. “Saya belok dikit ke pertanian organik,” terang Benny, terkekeh.

Waktu itu, ia menyediakan modal Rp100 juta, hasil dari tabungan semasa bekerja, untuk membeli sepetak lahan di Desa Sukagalih, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor. Lahan seluas 5.000 meter persegi ini memiliki latar belakang Gunung Gede Pangrango. Jadi, selain menjadi tempat usaha, lahan ini juga menjadi “tempat rekreasi” Benny dari rutinitas sehari-hari. “Saya termasuk nekat masuk dunia organik. Soalnya, saya tidak punya latar belakang pertanian. Trial dan error saja lah,” kata dia. Tapi, kalo bicara soal pemasaran hasil kebun organiknya, Benny tak ada lawan. Ia begitu fasih menjual brokoli organiknya. Sebab, ia punya segudang pengalaman berdagang, mulai berjualan baju sampai sepeda saat masih bekerja kantoran. Benny membocorkan, konsumen pertama hasil kebun organiknya adalah kawan-kawannya sendiri di JP Morgan. “Sampai sekarang mereka masih setia membeli sayuran organik dari kebun saya,” kata Benny, bungah.

Dari Arisan ke Arisan
Perjalanan bisnis memang tak semulus kulit terong. Selain pernah gagal panen perdana, kebun organik Benny juga penah hancur tersapu angin putting beliung. Kondisi alam dan cuaca memang kerap menjadi kendala.
Tantangan lain yang ia hadapi adalah masih minimnya kesadaran masyarakat akan manfaat sayuran organik. Apalagi harga sayuran organik lebih mahal ketimbang sayuran non organik. “Waktu saya mulai usaha ini, banyak yang belum paham apa itu organik. Belum lagi mereka suka protes karena harganya lebih mahal tapi kondisi sayur tak secantik sayur non organik,” kenang Benny. Memang, penampakan sayur organik tak seindah sayur non organik. Oleh karena tak disemprot pestisida, kadang kala ulat pun tak segan untuk ikut mencicipi sayuran itu. Alhasil, daun selada pun menjadi bolong-bolong. Tapi, justru itu kelebihan sayur organik: aman dikonsumsi.

Untuk memasarkan produk sayuran organiknya, yang diberi merek Benny’s Organic Garden, Benny mengadopsi pola marketing farmers market, gaya petani negeri Paman Sam. Ia menjual secara langsung hasil buminya ke konsumen. Selain ke perkantoran, ia juga menjajakan ke perumahan, serta rajin mengikuti arisan, dan segala macam kegiatan yang banyak didatangi kaum hawa, terutama kalangan ekspatriat. Benny tak merasa malu atau jengah saat menawarkan sayur di depan ibu-ibu peserta arisan. “Ketika saya mendatangi konsumen secara langsung, saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Bersentuhan langsung dan membangun relasi yang baik dengan konsumen,” kata ayah dua putra ini. Walhasil, konsumen pun loyal pada produk Benny’s Organic Garden.
Benny mengaku pernah mendistribusikan produknya ke supermarket. Tapi, ia kurang sreg dengan sistem pembayaran yang digunakan. “Mereka menganut sistem pembayaran tunda. Ini cukup merepotkan saya, karena bayaran petani tak bisa dengan sistem tunda,” keluh pria berkacamata yang sedang asyik menulis buku.
Saat ini lahan perkebunan organiknya sudah mencapai 1,3 hektar, berbagai jenis sayuran seperti bayam merah dan hijau, brokoli, buncis, kacang merah, tomat, berbagai macam sayuran Jepang, sampai wortel yang jadi primadona Benny’s Organic Garden. “Targetnya sampai 20 jenis tanaman, namun tergantung musim juga. Dan yang mengolah kebun organik tidak bisa monokultur atau hanya menanam satu jenis tanaman, namun harus beberapa macam,supaya jika satu gagal panen masih ada jenis lainnya,” jelas pria kelahiran 22 Mei 1957 ini.

Walau omzetnya tiap bulan masih terbilang kecil, tetapi Benny begitu menikmati pilihannya menjadi petani. “Justru banyak yang bilang saya tampak lebih segar sekarang,” katanya, dengan senyum terkembang. Ia memiliki kebebasan waktu untuk menentukan ritme kerjanya sendiri, kendati ia sempat mengalami jetlag ketika memutuskan menjadi petani. Beradaptasi dengan budaya petani yang jauh dari kehidupan glamor, bergulat dengan kotornya tanah dan teriknya matahari, serta harus mengencangkan ikat pinggang di awal usahanya menjadi perjuangan tidak hanya bagi Benny namun juga bagi kedua putranya. “Awalnya anak-anak saya senang kalau saya pulang membawa hasil pertanian, namun mereka juga protes karena jadi jarang saya ajak jalan-jalan ke mall,” kenang Benny yang kerap diundang sebagai pembicara di berbagai seminar dalam kapasitasnya sebagai ‘petani’ organik.

Tidak pernah terbersit kata menyesal dalam benak Benny. Menjadi petani bagi Benny adalah sebuah pilihan tepat. Buku, internet, dan kegemarannya berguru dengan berbagai orang yang sudah lebih ahli soal organik menjadi jendela pengetahuan baginya. Termasuk dalam soal pengelolaan perkebunan organiknya sebagai sebuah usaha yang mengejar profit, ujarnya, “Prinsipnya dalam bisnis, buy low sell high, itu yang saya jalankan. Soal pemilihan timing dan karakter bisnis prosesnya learning by doing bahkan sampai detik ini.” Targetnya, Benny ingin mengekspor sayuran organiknya, ia sedang menjajaki kemungkinan merambah pasar Singapura dengan terlebih dulu melakukan penetrasi pasar ke Batam yang notabene dekat dengan Singapura.