Buah pikiran Rusdi Kirana – Pemilik Lion Air

Bagaimana Anda membangun loyalitas? (saat petikan wawancara ini dimuat pada 2013, Lion Air Group memiliki sekitar 20.000 karyawan)

Tidak perlu yang loyal. Loyalitas bisa dibangun kalau mereka punya kepentingan juga. Loyalitas itu tak bisa hanya dari yang ada pada diri kita, tetapi kalau kita memikirkan mereka dan memberikan apa yang mereka butuhkan, seperti membangun perumahan untuk mereka.

(Lion City dibangun di area 30 hektar di kawasan Telaga Bestari, Balaraja)

Penumpang sekarang juga tak mudah dengan emosi yang berbeda-beda. Kita tak perlu berdebat dengan mereka. Saya tak mau diwawancara, tak pernah berikan statement.

Kenapa? Kita tak perlu defense. You can say I’m wrong, oke karena memang saya di pelayanan. Dalam layanan, saya tak mau debat agar orang itu mengatakan saya benar. Kamu mengatakan saya benar, setelah kamu merasakan produk saya.

Kalau kamu anggap produk saya tak benar, ya saya perbaiki. Tapi, kalau saya anggap produk saya sudah benar, it’s your choice. Kita tak bisa mencari alasan dari kegagalan kita. Yang kita lakukan adalah kita improve diri kita.

Saya menangis tersengguk-sengguk. Waktu saya menangis itu, ada anak saya melihat. Saya juga dapat tekanan tinggi, tetapi saya berusaha untuk tough. Salah satu yang membuat saya lebih tough: tutup kuping, tutup mata, tutup mulut.

Mungkin orang marah karena mereka terpengaruh oleh berita-berita itu, seakan-akan kita ini tak punya nurani. Kita tak salahkan mereka. Kita tak peduli ini pelayanan lagi ada masalah. Yang kita mau adalah giving good service. Saya juga tak salahkan infrastruktur. Saya juga tak mau hipokrit.

Yang membuat saya lebih kuat dalam hidup, saya berdoa. Tuhan, terima kasih saya masih ada kesehatan dan rezeki.

Waktu saya berdoa, saya membayangkan zaman saya waktu susah. Saya membayangkan kalau saya tak punya apa-apa. Di situ, saya merasa encouraged. Tak usah berpikir hal-hal yang membuat kita jadi dis-couraged.

Kita harus mengerti, di bidang ini kejadian seperti itu pasti terjadi. What did you expect dengan penerbangan yang sangat besar itu?

Selama 13 tahun (wawancara dilakukan di tahun 2013), saya “kacamata kuda”, seperti tiga patung monyet yang ada di Jerman: tutup mata, tutup mulut, tutup telinga. Kalau saya ikuti semua, saya akan down. Waktu kejadian di Bali (pesawat B737-900ER-nya “mendarat” di laut), semua TV saya matikan, koran saya buang, supaya saya tak goncang. Saya mau fokus pada kerjaan saya. Kalau diikuti, saya akan discouraged.

Itu tak perlu didebatkan. Yang menjustifikasi kita benar atau salah, it’s not us. Sudah terjadi, kita perbaiki, kita improve, kita tahu ada yang ‘bermain’. Kita panggil direktur saya. Kita buat SOP. Jadi, how to lead a company? We have to be strong, we have to be the strength.

Kalau saya bilang, nuts-lah. Supaya saya tak jadi gila, saya berdoa. Yang saya ucapkan, saya terima kasih. Dengan itu, kita hidup lebih bahagia. Sepuluh tahun lalu, saya bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa teman-teman saya mau minta tolong kepada saya? Ternyata, itulah yang membuat kita jadi leader. Tidak berkeluh kesah, tidak meminta, tetapi memikirkan orang lain.

I don’t want to argue, tapi I want to prove it. Kita harus bisa menyimak. Tidak mungkin pisau akan tajam kalau tidak diasah. Tidak mungkin kita pengusaha akan ulet kalau semua lancar.

Kita learn by mistake, learn semua dari tempaan. Dalam hidup ini, kita harus bersyukur, kerja yang baik, berkreativitas, berpikir beyond, out of the box, dan berusaha melupakan orang yang membuat kita susah.

Apa rahasia sukses Anda memimpin Lion Air?

Satu, kita harus punya visi. Dua, passion, Tiga, jiwa yang nekat, berpikir out of the box dan kreatif. Kita bisa memimpin mereka menuju apa yang kita mau. Kita harus bawa mereka ke arah apa yang kita mau, memunculkannya.

Mereka tak mungkin hanya kita suruh, tegur, atau marahi, tapi melihat diri kita; sepak terjang kita. Dengan melihat kita dan karya kita, otomatis menimbulkan kekaguman. Kita harus tunjukkan bahwa kita bekerja dan menghasilkan karya hingga timbul kekaguman. Buahnya, percaya

Teori Jendela Pecah / Broken Window

Ada sebuah teori yang dikembangkan oleh kriminolog dari Amerika Serikat yang bernama George L. Kelling dan Catherine M. Coles. Kedua orang ini mengembangkan sebuah teori yang disebut dengan teori “Broken Window”. Teori ini menjelaskan bahwa satu jendela pecah yang dibiarkan akan mengundang orang lain untuk memecahkan kaca jendela yang lainnya. Jendela pecah yang tidak diperbaiki menimbulkan kesan ketidakpedulian, inilah yang memicu datangnya kerusakan-kerusakan lain yang lebih parah.

Bagaimana melihat teori “Broken Window” ini dalam kehidupan sehari-hari?

Bersikaplah cuek terhadap anak Anda yang bersikap berandal, maka keberandalan anak Anda itu akan semakin meningkat.
Biarkan rasa malas Anda dalam melakukan sebuah pekerjaan, maka rasa malas itu akan menjalar pada semua aspek kehidupan Anda.
Biarkan seorang karyawan melakukan tindakan tidak disiplin dalam bekerja, maka lama-kelamaan yang lain juga akan mengikuti bertindak tidak disiplin dalam bekerja.
Biarkan anak Anda pulang larut malam dan bersikaplah bahwa itu adalah hal yang biasa dan tak perlu dikuatirkan, maka jangan kaget jika suatu saat nanti mereka akan pulang pagi.
Biarkan rasa malas dan rendahnya motivasi dalam melayani, maka jangan kaget jika kita menjadi sumber masalah dalam pelayanan di mana kita melayani.
Biarkan rasa marah dan dengki menjadi dasar  sikap dan tindakan kita dalam berelasi dan bersikap pada orang lain, maka jangan kaget jika kita menemukan diri kita (dan orang lain menilai kita) menjadi bagian dari suatu masalah bukan bagian dari solusi suatu masalah.

Revolusi Mental Pegawai

PNS pungli sudah hal biasa, hampir semua melakukannya kata istri. Nah lho.. citra PNS sudah segitunya.
Bukankah sudah tugas mereka melayani masyarakat?
Gimana ya cara laporin oknum2 ini?
Boleh gak posting video bukti punglinya? Ada dampak hukum UU ITE buat yang mengunggah dan menyebarkan? #PNSPungli #MentalKorup
#NOKKN

Pengertian Goblok di Mata Alm. Bob Sadino

Selamat jalan om Bob.
Berikut saya kutip beberapa pandangan beliau..

“Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain”

“Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya”

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan”

“Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat dan jika untung maka bertambahlah syukur saya”

“Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif”

“Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar”

“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu”

“Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir, kan cuma selangkah”

“Orang goblok itu nggak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah”

“Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu impossible! Orang goblok cuma punya satu harapan, yaitu hari ini bisa makan”

“Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok itu berjuang keras untuk sukses bisa bisa bayar pelamar kerja”.

Resiko Usaha (Contoh Kasus Hukum Pembatalan Sepihak Disertai Ancaman)

Dalam memulai suatu pekerjaan / proyek, pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh penyelenggara maupun pelaksana. Meskipun resiko bisa diminimalisir, tetap saja tidak dapat menihilkan resiko-resiko lain yang muncul di luar dugaan maupun di luar usaha manusia seperti Force Majeur bencana alam, topan badai, dll.

Baru kemarin kami dapat klien yang tidak mau menanggung resiko sama sekali. Dengan tenggat waktu yang sempit, klien ini sudah menghubungi beberapa supplier tanpa hasil, akhirnya menghubungi kami. Rupanya klien ini dapat proyek untuk mengirim batu split sampai ke Jakarta dengan tenggat waktu maksimal jam 05.00 pagi keesokan harinya, yang tidak diberitahukan di awal perjanjian kepada kami. Dengan prasangka baik, dan menjunjung profesionalisme kami menyanggupi pekerjaan itu (tanpa mengetahui deadline dan resiko-resikonya) setelah klien mengirimkan uang muka sebesar 50% dan PO / Purchase Order sekitar pukul 20.00 WIB (tertera di PO, pengiriman dilakukan 1 hari setelah PO keluar).

Masalah mulai muncul ketika pengiriman tidak sampai tujuan tepat pada waktu yang diinginkan oleh klien. Tiba-tiba klien membatalkan perjanjian secara sepihak dan meminta uang muka dikembalikan sepenuhnya. Klien beralasan belum menerima barang sama sekali dan malah menuduh kami melakukan penggelapan uang perusahaan.

Kami bingung, truk sudah melaju di aspal semalaman dari Bojonegara, Banten (berisikan batu split, tentunya), sebagian sudah sampai di Balaraja tetapi karena driver kelelahan dan memperhitungkan faktor keselamatan mereka memutuskan beristirahat. Dan sebagian memutuskan beristirahat di Serang karena waktu yang tidak memungkinkan untuk memasuki jam protokol Jakarta (jam 22.00 sd jam 05.00 WIB).

Klien datang keesokan harinya untuk melihat truk-truk tersebut (setelah pembatalan sepihak olehnya), tetapi tetap menuduh kami tidak profesional, bahkan menuduh truk-truk itu kosong isinya! Dia bersikeras untuk meminta seluruh DP yang diberikan disertai ancaman akan membawa-bawa kepolisian dengan tuduhan penggelapan. Akhirnya kami sepakat untuk mengembalikan 2/3 (dua pertiga) dari total DP yang dikirimkan, meskipun kami masih mengalami kerugian.

Melalui konsultasi kami dengan beberapa kuasa hukum, kami tidak diharuskan mengembalikan uang muka karena pembatalan bukan dari pihak kami. Toh, batu sudah termuat dan truk sudah berjalan, lalu siapa yang akan menanggung biaya operasional yang sudah berjalan? Belum lagi penjualan batu yang sudah termuat, siapa pula yang akan menerima?

Yang kami sayangkan adalah ancaman-ancaman yang diberikan klien ini, Sebegitu rendahnya kah nilai hukum di mata dia? Pasal penggelapan apa yang dia maksud? Apakah bisa kami tuntut balik dengan pasal ancaman dan penghinaan Pasal 310 s.d 321 KUHP? Sebegitu rendahkah nilai aparat hukum di mata dia? Dengan kata-kata “Saya telepon kepolisian di mabes, tinggal ciduk saja pelaku penggelapan ini”. Demikiankah prosedur hukumnya? Hanya dengan sekali telepon bisa langsung menangkap seseorang?

Bagaimana menurut Anda?

Why School Kill Creativity – Ken Robinson

What these things have in common is that kids will take a chance. If they don’t know, they’ll have a go. Am I right? They’re not frightened of being wrong. Now, I don’t mean to say that being wrong is the same thing as being creative. What we do know is, if you’re not prepared to be wrong, you’ll never come up with anything original — if you’re not prepared to be wrong. And by the time they get to be adults, most kids have lost that capacity. They have become frightened of being wrong. And we run our companies like this, by the way. We stigmatize mistakes. And we’re now running national education systems where mistakes are the worst thing you can make. And the result is that we are educating people out of their creative capacities. Picasso once said this — he said that all children are born artists. The problem is to remain an artist as we grow up. I believe this passionately, that we don’t grow into creativity, we grow out of it. Or rather, we get educated out if it. So why is this?