Coba Dulu Saja

Di suatu pagi, saya berkendara dengan sepeda menuju suatu desa. Karena gir dan rantai sepeda sepertinya kurang sinkron, saya memutuskan untuk mencari bengkel sepeda terdekat.
Tibalah saya di satu bengkel sepeda kecil yang kebetulan baru dibuka pintunya oleh si pemilik. Ketika saya tanya apakah bisa membetulkan sepeda saya, dia langsung menolak dengan alasan sepeda model baru yang belum diketahuinya.
Saya tetap bersikeras untuk diperiksa dulu dengan memberi alasan jauh dari kota tidak mudah mencari bengkel sepeda lagi, yang memang diakui oleh si pemilik bengkel.
Akhirnya dengan terpaksa, ia memeriksa satu persatu bagian gir. Ia mengambil obeng dan tang kemudian mulai memainkan jarinya memutar dan menekan tuas shift. Tak berapa lama dia berkata, pak masalahnya ada di sini dan sini, coba diperbaiki dulu.
Setelah beberapa saat, voila! Rantai sudah tidak berbunyi lagi dan gir tidak nyangkut berpindah posisi sendiri.
Si pemilik bengkel pun sepertinya takjub karena bisa memperbaiki, dan tentunya dapat rejeki ekstra di pagi hari.

Pelajaran yang saya dapat pagi itu adalah Jangan pernah menolak suatu tugas atau proyek, meskipun merasa tidak punya kemampuan.
Coba saja lakukan dan lihat hasilnya. Walaupun gagal Anda akan belajar dari hal itu untuk bekal di kemudian hari.

Ingat, kesempatan datang menghampiri hanya sesekali jangan biarkan berlalu begitu saja

Manusia tidak mudah untuk berubah

Ketika suatu perubahan sedang dan akan terus terjadi, bagaimana reaksi orang-orang yang menghadapinya? Apakah senang? Atau marah?

Jawabannya tergantung dari individu masing2. Apabila individu tersebut sudah muak dan jenuh dengan situasi-kondisi yang ada,  maka ia akan menyambut perubahan dengan tangan terbuka.
Jawaban sebaliknya akan muncul ketika individu tersebut berusaha mempertahankan status quo kenyamanan dirinya dan sekitarnya.

Fenomena ini saya amati muncul pada pilpres (pemilihan presiden) tahun 2014 ini. Seorang change maker yang berasal dari sipil dan berbasis pengusaha (sudut pandang yang berbeda tanpa kepentingan politik yang berlapis),  berupaya mendobrak batas dan sekat birokrasi politik yang ada.

Individu2 yang merasa selama ini belum ada perubahan menunggu sosok change maker ini muncul, sedangkan individu2 yang tidak mau ada perubahan tampak begitu ngotot menjatuhkan sosok ini (tampak sampai sekarang setelah pilpres berakhir dan dilanjutkan masa kerja sosok ini)

Sesungguhnya perubahan selalu menyertai kemajuan,  apabila disikapi dengan arif dan didukung sepenuhnya.

Sudah siapkah berubah? Atau sudah siapkah punah?

Stop Discrimination Please..

 

Akhir-akhir ini sering membaca berita demo yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan suatu kelompok dan membawa-bawa hal yang sensitif di dalamnya yaitu SARA untuk menurunkan seorang pejabat yang secara konstitusional sah. (baca : FPI Tolak Ahok). Bahkan mereka membuat pejabat tandingan.

Apa sih motif mereka ini? Murni politik kah? Atau ada motif lain? Atau mereka memang dapat penghasilan dari kegiatan itu? Memang masih jamannya politik devide et impera? Atau mereka menolak perubahan ke arah lebih baik?

Biarkanlah pejabat ini bekerja, toh selama ini rekam jejaknya bagus.

Sedangkan bagaimana rekam jejak para kelompok ini?

Anda sendiri yang menilai..

Nikmatnya punya uang lebih

Tadi pagi salah satu karyawan saya yang tugasnya menjaga anak2 tiba2 pingsan dan kesakitan. Keluhannya mulas seperti mau kencing tapi tidak ada yang keluar disertai mual. Yang keluar malah gumpalan darah segar dan gumpalan2 lain.

Setelah interogasi, muncul pengakuan bahwa dia sedang hamil muda dan memang menutupi kondisinya supaya bisa diterima bekerja.
Tanpa bekal cukup karena baru bekerja kurang dari seminggu, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dan menanggung semua biaya yang akan ditagihkan.

Setelah kejadian itu saya berpikir alangkah nikmatnya membantu orang lain dan kebetulan saya memiliki uang yang dibutuhkan saat itu.
Memang membantu sesama tidak melulu dengan uang, tetapi dengan punya uang lebih kita bisa lebih berkesempatan membantu orang lain.

Bagaimana menurut Anda?